Seperti halnya para pedagang yang menjalankan perniagaannya, sudah barang tentu yang menjadi tujuan utama mereka adalah mendapatkan keuntungan. Sungguh mustahil ada pedagang yang mau menjalankan usaha, tujuannya hanya menginginkan kerugian, adakah pedagang yang mau merugi? Oleh karena itu para pedagang amatlah suka dan senang bila memiliki kesempatan untuk bekerjasama dengan pihak-pihak yang memberi harapan untuk meraup keuntungan yang lebih besar. Akan tetapi semua pedagang pun tahu mengerti setiap usaha sekecil apapun tetap memiliki potensi untuk megalami kerugian, sehingga mereka akan sangat berhati-hati dalam menjalankan bisnisnya, penuh perhitungan dan tidak mudah percaya dalam menjalin kerjasama dengan pihak lain. Tapi apakah semua jenis perniagaan seperti itu? Potensi untuk rugi, ditipu dan bahkan mengalami kebangkrutan?Alloh swt telah menjawabnya :
“Hai orang orang yang beriman, maukah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang tidak merugi dan dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? Berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan hartamu dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa dosamu dan memasukkanmu kedalam jannah yang mengalir dibawahnya sungai sungai dan tempat tinggal yang baik didalam jannah 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan ada lagi karunia yang lain yang kamu sukai yaitu pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang orang yang beriman” (QS. Ash Shaff 10-13)
Di tempat lain Alloh juga berfirman :
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri ( QS Fathir : 29-30).
Ayat-ayat ini dengan jelasnya menyebutkan suatu bentuk perniagaan yang tidak akan pernah sekalipun mengalami kerugian, justru akan selalu memperoleh keuntungan dan bahkan keuntungan itu akan terus dilipatgandakan, dikarenakan perniagaan ini terjalin antara hamba dengan Alloh Yang Maha kaya, yang telah memberikan jaminan keberuntungan, kemenagan dan kejayaan di dunia dan akhirat bagi siapa saja yang mau menjalin perniagaan bersamaNya. Hal yang sedemikian ini tidaklah sulit bagi Alloh swt. Inilah perniagaan yang bebas dari prilaku tipu menipu, adakah Alloh swt akan menipu hamba-hambaNya? Dan apakah mungkin hamba mampu menipu Nya? cukup bagi kita Hujjah Alloh di dalam FirmanNya : “tidaklah mereka menipu, melainkan menipu diri mereka sendiri, sedang mereka tidak sadar “ ( QS. Al-Baqoroh 8-9)
Selanjutnya dalam konteks surat ash-shof tersebut di atas yang di maksud dengan perniagaan yang tidak merugi adalah dengan cara beriman dengan sepenuh hati kepada Alloh dan RosulNya, kemudian membuktikan keimanan itu melalui perjuangan dan pengabdian di jalan Alloh swt dgn ikhlas, tanpa ragu mau mengorbankan harta dan bahkan jiwa yang mereka milki dalam pengabdian untuk menegakkan Din Nya. Keikhlasan dalam mengorbankan harta dan jiwa di jalan Alloh adalah bukti adanya iman didalam hati mereka, kemudian Alloh membalasnya dengan balasan yang lebih besar. Inilah yang Alloh menyebutnya sebagai perniagaan yang tidak merugi (tijârotan lan tabur).
Menurut al-Raghib al-Asfahani, Kata al-tijâroh berarti mempergunakan modal yang ber-tujuan untuk mendapatkan keuntungan. Ibarat tijâroh, semua amalan itu adalah modal yang dikeluarkan. Sedangkan keuntungan yang didapat adalah pahala, surga, pertolongan dan ridha-Nya. Dibandingkan dengan amal yang dikerjakan, tentulah keuntungan itu jauh sangat besar. Alloh swt berfirman: “ sesungguhnya Alloh telah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan memberikan syurga “ ( At-Taubah : 111)
Apa yang melebihi surga dan ridha-Nya? Maka sungguh demikian indah sehingga perniagaan itu pun disebut sebagai tijarotan lan tabûr, perniagaan yang tidak akan merugikan. Sebagaimana dijelaskan al-Jazairi, kata lan tabûr bermakna lan tahlik (tidak akan lenyap), yang bermakna bahwa semua modal manusia berupa iman dan amal shalih tidak akan lenyap dan sia-sia. Hal itu karena telah menjadi ketetapan dan janji Allah SWT bahwa semua perbuatan manusia akan mendapatkan balasan dari-Nya. Sebagaimana balasan siksa neraka atas perbuatan munkar dan maksiat, maka perbuatan ma'ruf dan taat pun akan diganjar dengan pahala dan kebaikan, bahkan balasan yang diberikan bukan hanya sepadan dengan perbuatan yang dikerjakan, namun masih ditambah dengan keuntungan berlipat seperti firman Alloh yang berbicara tentang nafkah harta : “ perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Alloh swt adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Alloh melipat gandakan kebaikan bagi siapa yang dikehendakinya.
( Al- Baqoroh : 261)
Ciri kuatnya iman adalah hati yang mudah ketika menafkahkan harta yang dimilikinya dan mengorbankan jiwa raganya di jalan Alloh. Tidak terbersit didalam hatinya barang sedikitpun rasa berat, takut dan khawatir akan kehabisan harta benda, dikarenakan keyakinan ynag mendalam akan semua janji Alloh yang tertulis di dalam KitabNya. Alloh swt menyebutkan prilaku orang beriman dengn firman Nya : sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah yang beriman kepada Alloh dan RosulNya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad di jalan Alloh dengan harta dan jiwa mereka. Mereka itulah orang-orang yang benar “ ( Al hujurot : 15 )Hidup di dunia ini amat singkat. Itu pun hanya sekali. Maka jangan sampai salah pilih dalam menjalaninya apalagi harus merugi dan merugi. Alloh swt telah menawarkan sebuah bisnis besar yang di janjikanNya akan mendatangkan kejayaan bukan hanya di dunia, tapi juga di kehidupan akhirat, jika demikian halnya, masih-kah kita belum tertarik dengan tawaran yang menggiurkan ini? Wallahu a’lam (oleh Ust Wira)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar